Post ane yang ke-100, setelah 2 tahun bikin blog..^^..Kali ini dibikin dalam bahasa Indonesia aja karena takut kelamaan mikirnya dan kehilangan esensi yang mau disharing..^^.>Semoga bisa menjadi berkat.
Hari Minggu yang lalu, sebenarnya malas banget ke gereja, padahal pembicaranya hari itu bagus. Singkat cerita, setelah pergumulan dan bujukan bbm dari teman-teman pemuda, diputuskanlah untuk hadir di persekutuan pemuda dan terus lanjut ke kebaktian 3 yang notabene karena udah komitmen harus hadir,yah mau ga mau dateng deh. Dalam 2 kebaktian yang berturut-turut ini, berasa banget dikuatkan sama Tuhan oleh kedua pembicara yang berbeda. Keduanya secara ga langsung mengingatkan akan resolusi yang pernah dibuat di awal tahun dan sampai sekarang belum bener-bener dilaksanakan.
Melalui post ini mau sharing aja sih apa yang didapat hari itu, terutama yang di Persekutuan Pemuda. Hari itu temanya kaya judul lagu band, “Mau Dibawa Ke mana?” dan tujuan dari tema itu adalah mengenai tujuan hidup. Hari itu Ev. Alvin Jeremiah yang jadi pembicaranya, sedikit meralat mengenai judul/ tema. Menurut beliau kalau “mau dibawa ke mana” itu memiliki kesan bahwa kita-lah yang memiliki otoritas untuk menentukan arah tujuan hidup kita, sementara kita dapat hidup, memperoleh keselamatan saja itu semua hanya karunia dan anugerah Tuhan, jadi sudah selayaknya masa depan kita pun Tuhan yang menentukan. Sudahkah kita menyerahkan itu ke dalam tangan Tuhan? Kasarnya sih yah, hidup aja udah atas belas kasihan Tuhan, eh buat masa depan mau seenak udelnya, kayanya kurang etis yah (kalau bahasa ane).
Setelah menekankan mengenai otoritas Tuhan atas hidup kita, Ev. Alvin ini mengajak kita untuk mendalami mengenai kisah orang kaya yang menghampiri Yesus dan bertanya bagaimana caranya masuk Surga (Markus 10:17-27). Sudut pandang yang dia gunakan untuk membahas perikop ini cukup unik dan memancing kita yang sebagian ada di sana untuk introspeksi diri. Perikop ini tidak hanya sebatas membahas masalah orang kaya yang ingin amsuk Surga namun memiliki makna yang lebih mendalam.
Markus 10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
Hal-hal yang ditebalkan merupakan hal yang ditekankan oleh Ev. Alvin. Beliau menggambarkan bahwa pada masa itu, bila Yesus sedang mengajar atau berjalan-jalan, umunya orang yang mengikuti DIA akan berbondong-bondong. Namun orang kaya tersebut berlari-lari di tengah kerumunan orang (which is cukup sulit dilakukan) dan kemudian orang kaya tersebut bertelut yang merupakan suatu sikap yang cukup sulit dilakukan apabila orang tersebut tidak sungguh-sunggu menganggap Yesus orang yang lebih tinggi darinya. Sikap bertelut ini menggambarkan orang kaya ini men”Tuhan”kan Yesus. Kemudian pertanyaan yang Ia lontarkan mengenai cara memperoleh hidup kekal juga menggambarkan orang ini cukup “tinggi hati” dengan beranggapan keselamatan dapat diperoleh dengan usaha sendiri. Kembali ditekankan bahwa keselamatan merupakan anugerah Allah.
Mar 10: 18-20 Jawab Yesus: ”Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”
Pada ayat tersebut, Yesus hanya menyebutkan hukum kelima sampai sepuluh saja, hukum yang mengatur hubungan horizontal antar manusia. Pernyataan ini kemudian dijawab oleh si orang kaya, bahwa ia telah melakukan semua itu sejak masih muda. Berdasarkan studi yang telah dilakukan, diketahu bahwa si orang kaya ini merupakan salah satu orang yang memiliki jabatan tinggi di antara ahli taurat atau pemuka agama. Mungkin dalam bayangan pria ini, dengan segala hal yang dia lakukan Yesus akan menjawab bahwa Ia sudah dipastikan akan masuk Surga, namun pada kenyataannya Yesus menjawab:
Mar 10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: ”Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
Dalam jawaban Yesus ini, Ia tidak menekankan mengenai harta saja, tetapi merupakan wujud nyata dari kasih dan hubungan vertikal kita dengan Tuhan yang diatur dalam hukum 1-4 pada hukum Taurat. Tetapi ketika mendengar jawaban tersebut, pria itupun menjadi kecewa dan meninggalkan Yesus (Mar 10:22). Apabila orang tersebut sungguh mengasihi Tuhan, bahkan sudah rela bertelut, dan Men-Tuhan-kan Yesus, sudah sepatutnyalah Ia melaksanakan apa yang diperintahkan. Namun kenyataannya tidak.
Mar 10:23-25 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: ”Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: ”Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Tak heran para murid tercengang ketika mendengar pernyataan Yesus. Pada jaman tersebut, ada anggapan bahwa orang-orang kaya adalah orang yang diberkati Tuhan, orang yang diberkati Tuhan pasti dikasihiNya dan pasti masuk Surga. Jadi bilamana seorang kaya yang diaksihi Tuhan tidak dapat masuk Surga, bagaimana dengan mereka (murid-murid Yesus) yang hanya orang biasa.
Di Ayat berikutnya, Mar 10:27 (Yesus memandang mereka dan berkata: ”Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.) Tuhan Yesus kembali menegaskan bahwa keselamatan hanya berasal dari pada Allah saja, tidak ada yang mustahil bagiNya.
Demikian pula dengan masa depan kita, sudah seharusnya kita bertanya ke mana Tuhan mau membawa kita/ menempatkan kita. Ketika kita mulai membentuk mindset seperti itu, dan kita mulai melatih kepekaan kita terhadap suara Tuhan, niscaya Tuhan akan memberikan tanda untuk kita, selama kita juga turut berusaha. Percaya, Dia pasti akan memberikan yang terbaik.
Well..ga tau c, ketika denger firman ini teringat pergumulan-pergumulan ketika baca buku Purpose Driven Life. Bergumul mencari tujuan hidup, sampe suatu saat ketika baca buku itu dapat sebuah visi. Resolusi tahun baru kemarin pun dibuat untuk mencapai visi tersebut, namun lately kegigihan untuk mencapai visi tersebut pun udah mulai luntur, dengan kondisi sa-te yang masih berantakan, kepercayaan diri yang turun naek,etc. Dari sini diingatkan lagi sama Ko Alvin, kalau visi itu bener2 dari Tuhan, semustahil apapun Tuhan mampu untuk membukakan jalan as long kita mencoba dan berusaha..
Rasa-rasanya udah terlalu panjang yah untuk satu pos. Mungkin mengenai khotbah dari pak Mangapul Sagalah disharingkan di lain waktu..^^